Kotler menyampaikan tidak kurang dari 94 slide persentasi, ini persentasi dengan jumlah slide terbanyak yang pernah saya ikuti. Tapi yang membuat saya berkesan tiap slide yang ditampilkan padat dan hidup. Beberapa slide diantaranya juga berisi video seperti persentasi pada umumnya.
Saya menangkap beberapa pelajaran penting yang diurai dalam tulisan saya ini.
Pertama, secara jelas pada pendahuluan persentasi dia menjelaskan tentang arus baru marketing dalam multi aspek. Meningkatanya pengguna internet membuat posisi perusahaan besar dan kecil menjadi lebih datar, ini juga mengubah banyak hal tentang teori-teori dan konsepsi ‘marketing lama’. 5 tahun kebelakang marketer dianggap sebagai profesi yang memuakan, penuh kebohongan, secara sederhana image marketing itu buruk.
Bahwa kemudian dia menggagas marketing 3.0 yang kemudian di bukukan, idenya tentang marketing yang lebih humanis, berintegritas dan spiritualis. Dia juga mengurai banyak hal tentang angka jual beli online, dan signifikansi perkembangan perusahaan-perusahaan online. Dalam slide future marketing dia menjelaskan posisi masa depan yang semakin sederhana, bahwa ke depan dompet kita akan semakin tipis. Karena uang, identitas(KTP), SIM licensed dan semuanya itu akan kita bawa dalam ponsel, semua akan serba e.
Di indonesia kenyataan ini ditunjang dengan fakta Indonesia adalah negara no.2 terbesar pengguna facebook, kemudian juga pengguna no.3 twitter terbesar di dunia. Beberapa waktu ke belakang juga telah hadir sebuah perusahaan onlline terbesar yakni rakuten.com yang pemiliknya adalah orang terkaya no.5 di Japan, yang dibawa oleh mnc group.
Kedua, masih berlanjut dari penjelasannya soal the new wave of marketing, dia juga menjelaskan soal posisi market kontemporer. Indonesia sempat dipandang sebelah mata oleh dunia (dalam beberapa slide nya dia menunjukan banyak media di eropa menulis indonesia as a tiger of asia), namun pasca krisis ekonomi dunia, dalam hiruk pikuk marketing dan kondisi chaos marketing saat itu, dunia sibuk dengan kondisi chaos marketing dan melupakan beberapa negara yang ternyata develop diluar dugaan. Lupakan Jepang, lupakan Amerika, lupakan G8. Saat negara-negara ini melemah secara daya beli ekonomi. Indeks GDP china, indonesia brazil dan beberapa negara lain justru meningkat. Indoneisa pun mulai dilirik banyak investor asing, LOTTE salah satu perusahaan korea sebagai contohnya betul-betul merealisasikan investasinya. Kesimpulannya positif, angka investasi akan terus melonjak, orang asing akin semakin banyak di Indonesia dan seterusnya dan seterusnya.
Walaupun kenyataan ini masih diperlemah oleh 3 hal, kepastian hukum, infrastuktur dan birokrasi dalam negeri. Tapi di luar itu kalau semua berjalan normal maka lupakan eropa, indonesia adalah market yang dinamis, dan market yang potensial.
Terakhir, kenyataan diliriknya indonesia sebagai market dunia, inilah kenyataan yang membuat kita sadar inilah saatnya “going world class”. Namun yang dimaksud kotler dengan kelas dunia bukanlah misalnya memiliki cabang di tiap negara. Perusahaan itu bisa jadi lokal dan tetap hanya ada di indonesia kemudian dengan operasi lokal, namun service, standar pelayanan, mutu dan kualitasnya lah yang standar dunia. Sebetulnya telah banyak perusahaan lokal namun dengan standar world class, dia menyebut misalnya mie GM Jakarta, hotel santika. Standar world class juga bukan berarti mengabaikan kearifan lokal, bahkan karakter dan ciri khas lokalnya bisa jadi kekuatan berdaya saing.
Pada perusahaan jasa tentunya yang akan menjadi tuntutan adalah pelayanan, ketepatan waktu dan seterusnya, kotler menambahkan yang membutuhkan service world class ini juga bukan hanya orang asing, namun juga konsumen lokal.
Kenyataan ini sesungguhnya mengingatkan kita sebagai pengusaha lokal yang masih lemah dalam human capital, saya sering berandai bahwa relokasi kebijakan anggaran 20% untuk pendidikan dilakukan waktu zaman pak harto, mungkin sekarang kita tinggal menikmati hasilnya. Di zaman orba anggaran kebijakan hanya 7%. Sekian semoga bermanfaat share ini.

