Feeds:
Tulisan
Komentar

bangsa kasihan…

Kasihan bangsa
yang mengenakan pakaian
yang tidak ditenunnya,
memakan roti dari gandum
yang tidak ia panen,
dan meminum susu
yang ia tidak memerasnya.

Kasihan bangsa
yang menjadikan orang dungu
sebagai pahlawan
dan menganggap penindasan penjajah
sebagai hadiah.

Kasihan bangsa
yang meremehkan nafsu dalam mimpi-mimpinya
ketika tidur,
sementara menyerah padanya
ketika bangun.

Kasihan bangsa
yang tidak pernah angkat suara
kecuali jika sedang berjalan
di atas kuburan,
tidak sesumbar
kecuali di reruntuhan,
dan tidak memberontak
kecuali ketika lehernya sudah berada
di antara pedang dan landasan.

Kasihan bangsa
yang negarawannya serigala,
filosofnya gentong nasi,
dan senimannya tukang tambal dan tukang tiru.

Kasihan bangsa
yang menyambut penguasa barunya
dengan terompet kehormatan,
namun melepasnya dengan cacian,
hanya untuk menyambut penguasa baru lain
dengan terompet lagi.

Kasihan bangsa
yang orang sucinya dungu
menghitung tahun-tahun berlalu,
dan orang kuatnya masih dalam gendongan.

Kasihan bangsa
yang terpecah-pecah,
dan masing-masing pecahan
menganggap dirinya sebagai bangsa.

K a h l i l G i b r a n

Taubat Seorang Kartini

Ibnu Taymiyah terlanjur dikenal sebagai mujassimah dan ajarannya yang keliru terlanjur diterima para muridnya. Padahal, di akhir hayatnya ia insyaf dari kesalahannya dan bertaubat serta kembali kepada ajaran Ahlus Sunnah wal Jama’ah. Muridnya yang telah ghuluw dalam kesesatan menganggap bahwa Ibnu taymiyah telah murtad dan halal darahnya. Maka Ibnu taymiyah di bunuh oleh muridnya sendiri sebelum menyebarkan ajaran Ahlus Sunnah yang sesungguhnya.

Itu pula mungkin yang terjadi pada diri Kartini. Menurut sebagian sumber, Kartini menyadari kesalahannya di akhir-akhir hidupnya. Kartini yang sebelumnya tersilaukan dengan ajaran Masonic Eropa tersadar dan mengirim surat yang isinya antara lain:

“…, tadinya kami mengira bahwa masyarakat Eropa itu benar-benar satu-satunya yang paling baik, tiada taranya. Maafkan kami, tetapi apakah ibu sendiri menganggap masyarakat Eropa itu sempurna ? dapatkah ibu menyangkal bahwa di balik hal yang indah dalam masyarakat ibu terdapat banyak hal-hal yang sama sekali tidak patut disebut sebagai peradaban?” (Surat Kartini kepada Ny. Abendanon, 27 Oktober 1902)

Namun ajaran Kartini mengenai emansipasi yang kebablasan terlanjur tersiar dan terus disiarkan oleh antek-antek Yahudi seperti Aminah Wadud dan Musdah Mulia. Maka sesungguhnya, yang kami “perangi” bukanlah Ibnu Taymiyah atau pun Kartini, tetapi pemikiran mereka sebelum mereka insyaf dari kesalahan mereka. Tentu mereka akan senang, karena kami berusaha meluruskan apa yang belum sempat mereka luruskan.

Kartini hanya menginginkan persamaan hak dalam pendidikan, agar wanita lebih dapat menjalankan kewajibannya. Bukan perasmaan hak dalam kepemimpinan dan lainnya. Hal ini dinyatakan dalam salah satu suratnya yang berbunyi:

“Kami di sini memohon diusahakan pengajaran dan pendidikan anak perempuan, bukan sekali-kali karena kami menginginkan anak-anak perempuan itu menjadi saingan laki-laki dalam perjuangan hidupnya. Tapi karena kami yakin akan pengaruhnya yang besar sekali bagi kaum wanita, agar wanita lebih cakap melakukan kewajibannya, kewajiban yang diserahkan alam sendiri ke dalam tangannya: menjadi ibu, pendidik manusia yang pertama-tama” (Surat Kartini kepada Prof. Anton Dan Nyonya, 4 Oktober 1902).

Ibu adalah sekolah pertama. Sebelum lahir ke dunia, semua manusia, kecuali Adam, telah “belajar” dalam rahim ibu. Bukankah belajar itu merupakan segala macam proses dari tidak tahu menjadi tahu, dari tidak bisa menjadi bisa? Termasuk proses belajar adalah ketika terbentuknya sel-sel otak yang memungkinkan seseorang menyimpan data. Termasuk proses belajar adalah ketika alam bawah sadar calon bayi dipengaruhi oleh perilaku ibu selama mengandung. Termasuk proses belajar-mengajar adalah ketika sang ibu memasukkan zat-zat yang dapat mempengaruhi kualitas otak dan perilaku bayi yang tengah dikandungnya. Ibu adalah sekolah, tempat belajar pertama. Ibu adalah guru pertama. Ibu adalah pilar negara. Jika para wanita di suatu negeri telah rusak, maka tunggulah kehancuran negeri itu. Namun jika para wanita itu cerdas dan mengerti kewajibannya sebagai seorang wanita, maka lihatlah, kelak akan muncul para pemimpin yang cerdas dan cakap yang akan membawa negerinya kepada kejayaan.

Walalhu a’lam

Kentut Never Die

Siapa pun akan menganggap kentut adalah tindakan yang tidak sopan dan kurang ajar. Apalagi kalau kemudian dilengkapi dengan aroma yang menyesakkan dada. Gas buang dari dalam tubuh ini memang “senjata ampuh” untuk “mengacaukan” suasana. Segala sumpah serapah dan caci maki biasanya langsung bermunculan tatkala terdengar suara kentut.

Tapi tahukah kita mengapa Tuhan repot-repot menciptakan tubuh manusia dengan asesorisnya termasuk persoalan kentut tadi? Mengapa harus ada bau “busuk” seiring keluarnya kentut tadi? Pernahkah kita iseng-iseng melihat dari sisi lain diluar pandangan tidak sopan dan kurang ajar tadi?

Dari sisi kesehatan, dilihat dari sudut pandang ‘keseimbangan’. Metabolisme tubuh tak bisa selamanya dipertahankan di dalam. Ibarat mesin, harus ada asap knalpot atau oli yang diganti. Begitu juga dengan kentut. Ketika seseorang tidak bisa kentut, sebenarnya dia punya persoalan dengan metabolisme tubuhnya. Kasarnya, ada yang tidak beres dengan system pencernaan [dan pengeluaran] pada tubuhnya.

Filosofi kentut ini bicara soal keseimbangan. Seperti kita melihat ada yang cantik, ada yang tidak cantik. Ada yang kurus ada yang gemuk. Ada yang kaya dan ada yang miskin. Ada siang, ada malam. Semuanya punya ritme dan keseimbangan. Boleh kaya, tapi apa yang Anda sisihkan untuk yang miskin? Silakan nikmati siang, tapi istirahatlah ketika malam. Tatap kecantikan Anda, tapi jangan hina si buruk rupa.

Kita tahu bahwa setiap perbuatan seseorang mencerminkan sifatnya, dan ini adalah salah satu list yang mencerminkan sifat seseorang dari cara dia Kentut :
a. Bijaksana : orang yang bisa menempatkan diri dimana dan bagaimana dia harus kentut sesuai situasi dan kondisi
b.ceria : orang yang masih bisa tertawa setelah mencium aroma kentut orang lain
c. licik : orang yang kentut sembarangan tapi menuduh orang laing yang kentut
d. penipu / pembohong : orang yang kentut sembarangan tapi tidak mengaku ketika ditanya
e. pemaaf : orang yang dengan ikhlas memaafkan orang lain yang sudah menuduh dirinya kentut sembarangan
f. kreatif : orang yang bisa meng-kamuflase bunyi kentutnya seolah-olah menjadi bunyi lain
g. pintar : orang yang berhasil kentut di depan orang lain tanpa ketahuan kalo dia baru saja kentut
h. pemalu : orang yang suka kentut pelan-pelan
i. terbuka : orang yang suka kentut di depan orang lain secara terang-terangan
j. tertutup : orang yang kalo kentut akan menikmati kentutnya seorang diri
k. adil : orang yang walo sudah hampir semaput gara-gara cium bau kentut tapi tidak mau menuduh orang lain jika tidak ada buktinya
l. suka tantangan : orang yang nekat kentut di depan orang yang dia suka
m. suka berbagi : orang yang kalo kentut sukanya dinikmati bersama-sama
n. rajin : orang yang biar sudah kebelet kentut tapi tetap ngoyo belajar
o. serius : orang yang tidak bisa diajak main-main kalo sedang kentut
p. dewasa : orang yang bisa menerima kenyataan kalo dia ketahuan kentut di depan orang lain
q. keras kepala : orang yang ngeyel dan gak mau terima kalo kentutnya dibilang bau
r. pemimpin : orang yang mampu membuat orang lain ‘mau’ mendengar dan mencium kentutnya
s. pantang menyerah : orang yang akan terus berusaha mengeluarkan kentutnya walopun dia belum begitu kebelet kentut
t. setia : orang yang tetap mencintai pacarnya walaupun sudah menuduh dirinya kentut di depan umum

Entah siapa yang menulis artikel macam ini. Saya menemukannya di folder dokumen di komputer saya. Entah diambil dari mana artikel macam itu. Tetapi lumayan untuk menyegarkan jiwa yang lusuh. Isn’t it?

Tulisan Sebelumnya »