SEJAK awal, keberadaan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) turut menjadi tonggak pembentukan karakter mahasiswa dengan sandaran nilai-nilai keagamaan. Seiring perkembangan, sejumlah LDK melakukan pendekatan dakwah yang lebih variatif dan adaptif dengan zaman.
Dakwah di kampus tidak bisa dilepaskan dari peran LDK, yang saat ini telah hadir hampir di setiap kampus di Indonesia. Ada beragam cara dilakukan LDK untuk membangun basis massa. Dari menggelar pengajian hingga membuat kajian. Pada perkembangannya, pendekatan dakwah bisa meluas tergantung inovasi dan kreativitas pegiat LDK. Tak dimungkiri, muncul tuntutan kesesuaian dakwah agar senantiasa bisa menjangkau targetnya.
Menurut Ridwansyah Yusuf Achmad, Kepala Keluarga Mahasiswa Islam (Gamais) ITB, pendekatan dakwah semakin bervariasi. Pendekatan dakwah yang lazim dikenal seperti melalui pengajian taklim, ceramah di masjid, dsb., cenderung bernuansa gaya tradisional yang tak jarang membosankan bagi sebagian anak muda. “Cara itu tidak salah, namun ada yang berkembang. Kita bisa lebih berkreasi dalam mengajak massa kampus untuk lebih tertarik sama kita,” kata mahasiswa Teknik Lingkungan ITB 2005 ini.
Terkadang mahasiswa kurang suka mengkaji suatu topik dengan serius, tak terkecuali topik tentang agama. Di sinilah perlunya keberadaan diskusi interaktif atau talkshow. Jika perlu dilengkapi dengan kuis dan doorprize, yang pelaksanaannya tak melulu harus di lingkungan masjid. Dituturkan Ridwan, penyampaian syiar Islam pun bisa dilakukan dalam bentuk outbound atau cara lain yang atraktif.
Ditanya tentang efek positif dari kreasi pendekatan dakwah semacam itu, Ridwan mengatakan bahwa jumlah anggota Gamais ternyata meningkat dalam tiga tahun terakhir ini. Jika di masa lalu, jumlah mahasiswa baru yang mendaftar pada Gamais tidak lebih dari 100 orang, kini meningkat hingga 900 orang. Gamais pun tetap menjalin koordinasi dengan cabang-cabang Gamais yang berjumlah 38 buah di setiap program studi di ITB.
Di kampus UPI, Unit Kegiatan Dakwah Mahasiswa (UKDM) UPI yang berdiri sejak 1990 mengusung isu islamisasi kampus. Salah satu programnya ialah pengadaan “Jilbab and Koko Day (JKD)”, yang sampai kini sudah tiga kali digelar. Demi kesuksesan program “sehari berpakaian sopan” tersebut, para pengurus UKDM UPI membagikan kerudung gratis bagi mahasiswa UPI yang tidak berjilbab. Belum kegiatan lainnya.
Seny Marwati dari Dewan Pertimbangan Organisasi (DPO) UKDM UPI, mengungkapkan sebenarnya banyak program-program kerja lainnya, yang meski terkesan remeh, bisa mengena di hati.
Salah satu yang menarik dari program kerja Sentra Kegiatan Islam (SKI) Institut Manajemen Telkom (sebelumnya STT Telkom-red.) adalah pengadaan diskusi rutin tentang Islam dengan segala aspek permasalahannya, seminggu sekali setiap Jumat di salah satu ruang kelas, yang bernama Chatting (Cari Tahu Islam Itu Penting). Nama tersebut merupakan strategi tersendiri, dan terbukti mampu mengundang pengunjung lebih banyak. “Kadang-kadang ada orang yang ’sensitif’ duluan melihat nama yang Islam banget terus langsung males aja,” kata Abdul Wahid, mahasiswa Teknik Informatika 2004, yang bergiat di DKM Masjid Syamsul Ulum Institut Manajemen Telkom.
Wahid mengatakan, media publikasi agenda LDK pun perlu dikemas secara menarik. “Jika dulu gambar-gambar kartun jarang terlihat, sekarang itu bisa dipakai sebagai sarana dakwah,” kata Wahid. Perkembangan teknologi, khususnya software desain, memang telah mendukung semua itu terjadi.
Soal teknologi, Gamais ITB tak mau ketinggalan. Gamais membuat terobosan dakwah kampus dengan menggunakan teknologi SMS yang disebut “Gamais On Your Screen (GOYS)”. Tujuannya, pendekatan dakwah yang dapat menjangkau seluruh mahasiswa Muslim di ITB yang berjumlah belasan ribu. Pelanggannya mencapai ribuan mahasiswa dan yang menyenangkan, fasilitas itu gratis.
Dulu di masjid, sekarang bisa juga di area outdoor. Dulu melalui mimbar, sekarang bisa juga via SMS. Pendekatan dakwah kampus turut berevolusi sesuai perkembangan peradaban. Menurut Asep Kurniawan, Ketua DKM Unpad, pendekatan dakwah yang terbilang adaptif itu bagus, namun seharusnya tetap menjaga prinsip-prinsip agama yang ada. Di sisi lain, pendekatan dengan kemasan menarik itu sebenarnya awal membuka ketertarikan massa kepada Islam. “Selanjutnya, tetap perlu ikut mentoring (pembinaan),” kata Asep, mahasiswa FE Unpad 2004.
Dalam pergerakannya, dakwah kampus memiliki medan tersendiri. Terutama di kampus nonagama, tentu saja warga kampusnya lebih heterogen. “Kadang agak sulit untuk dirangkul, karena mahasiswa sekarang cenderung lebih suka hura-hura daripada aktif di kampus,” kata Asep. Namun, hal itu seharusnya bukan dijadikan hambatan kaderisasi bagi para pegiat LDK. DKM Unpad sendiri mencoba melebarkan basis massanya dengan beberapa kali memberi pelatihan pada kelompok Rohani Islam berbagai SMU se-Kota Bandung.
Bagi Irsan Galih Pranata, Ketua DKM Litta STT Tekstil, sudah tidak zamannya lagi pegiat LDK hanya duduk berpangku tangan menunggu massa datang dengan sendirinya. “Perlu teknik menjemput bola,” kata Irsan, mahasiswa Teknik Tekstil STT Tekstil 2004. Selain itu, upaya merangkul massa lebih luas bisa juga dilakukan dengan para pegiat LDK turut berkiprah dalam perpolitikan kampus, misalnya dengan penguasaan pos-pos penting sebagai pengurus di BEM atau Hima.
Salah satu contohnya, kiprah kader Gamais ITB. “Dari 27 Hima di kampus, 7 di antaranya diisi oleh kader Gamais,” kata Ridwan. Hal itu menimbulkan keuntungan tersendiri, setidaknya dakwah berpotensi punya pengaruh lebih luas. Soal kiprah LDK di dunia politik, khususnya partai politik di luar sana, menurut Eko Fachri, Ketua Keluarga Mahasiswa Islam (KMI) Itenas, hal itu harus dijaga sterilisasinya. Dukungan pada partai politik sebenarnya dikembalikan kepada personal masing-masing, yang jelas dukungan itu tidak boleh dilakukan dengan membawa nama institusi. “Wilayah akademik harus terbebas dari muatan politik,” kata Eko.
- *
BERBICARA kiprah LDK atau aktivis masjid kampus, Asep Saeful Muhtadi, staf pengajar UIN Sunan Gunung Djati Bandung, berpendapat, sejak lama ada kesan “eksklusif” yang menempel pada mereka. Secara penampilan, biasanya laki-lakinya berpakaian baju koko dengan celana panjang gantung di atas mata kaki, sementara perempuannya memakai jubah dan jilbab lebar. Pegiat LDK seolah hanya mau bergaul dengan sesama pegiat LDK, atau mereka yang memiliki orientasi moral secara dominan. Pegiat LDK biasanya menutup diri dari persinggungan dengan orang atau kelompok yang dianggap “salah” berdasarkan nilai-nilai agama. Tentunya dapat dibayangkan bagaimana wajah aktivis masjid kampus atau LDK yang begitu kaku, dan masjid kampus yang seolah sulit menjadi melting pot.
Menurut Asep, kecenderungan eksklusivisme semacam itu, tidak selamanya negatif. “Kalau ada yang menganggap negatif, itu karena ada perbedaan pandangan saja. Yang penting asal tidak mencederai hak-hak orang lain,” ujarnya. Asep mengatakan, keberadaan LDK sendiri bertujuan baik, yakni mengisi kekosongan semangat religiositas di kampus, yang semakin hari semakin tampak kering. Namun demikian, citra eksklusif LDK ada baiknya tidak dipertahankan.
LDK seharusnya berbaur, dan dakwah seharusnya menyentuh semua objek tanpa membedakan orang yang benar dan salah. “Dakwah bukan untuk sesama orang saleh saja, tapi harus merapat pada tiap lapisan.”
Terkait hal itu, Ridwan turut memberikan pendapat. Menurut dia, LDK bukan merupakan kumpulan orang saleh, melainkan orang yang belajar saleh. Bagi Ridwan, mereka yang aktif di masjid kampus harusnya bisa menyambut hangat beragam lapisan mahasiswa, sekalipun ia tidak berjilbab hingga belum bisa membaca Alquran dengan lancar. “Gara-gara orang-orang apatis, jadinya memandang LDK itu eksklusif, padahal nggak. Sekarang, kita lebih terbuka. Image celana ngatung dan jenggot panjang juga tidak harus selalu menempel,” kata Ridwan.
Asep mengapresiasi positif kemunculan varian metode berdakwah yang senantiasa mengikuti perkembangan masyarakat yang berubah. Prioritas mendesak bagi LDK hari ini adalah membangun moralitas, yang diartikan secara universal. “Jangan sampai ada mahasiswa yang berteriak tentang moral, namun ternyata moral mahasiswa itu sendiri sama kacaunya dengan pihak yang dikritik.”
Pemudaran kesan eksklusivisme bisa dimulai melalui perubahan paradigma bahwa wacana agama bukan hanya berkutat secara ideologis di tempat yang sempit, melainkan meluas pada aspek lain seperti hukum, sosial, politik, ekonomi, dsb. Khusus untuk dakwah di kampus, yang notabene target dakwahnya adalah kalangan terdidik, pengembangan dakwah bisa pula menyentuh bidang ilmu dan keprofesian. “Dakwah bukan hanya menyuruh salat dan puasa, tapi juga menyuruh kita untuk sejahtera, menyuruh kita untuk membangun masyarakat dan negara menjadi lebih baik,” kata Asep. ***
dewi irma
kampus_pr@yahoo.com

assalamu’alaykum.. bro,, bukan institut manajemen telkom,, tapi institut teknologi telkom =__=”"
HADIRILAH (BAQI FOR UMMAH)
Hari : Sabtu 12 Desember 2009
Pukul : 07.30 – 11.00
Tempat : Aula Mesjid AlFurqon UPI Bandung
>Talk Show Qurani “Betulkah,, Membaca & Menghafal AlQuran bisa meningktkn kinerja otak?”
Pemateri :
1.Ust.Hervy Firdaus,Lc,Al Hafidz (Sarjana ilmu Hadis Univ Islam Madinah)
2.Ust.dr.Tauhid Nur Azhar,M.Kes (Penulis buku ‘jangan ke Dokter lagi’)
Moderator : Agus Almhajir (Penyiar MQ FM)
>MABIT bersama Gubernur “Indahnya hidup dibawah naungan AlQuran”
Hari : Sabtu 12-13 Desember 2009
Pukul : 18.00 – 06.00
Tempat: Mesjid AlFurqon UPI Bandung
Pemateri :
1.Ust.H.Ahmad Heryawan,Lc (Gubernur Jabar)*
2.KH.Amang Syafrudin,Lc (DPD RI)
Imam + Muhasabah :
3.KH.Saeful Islam Mubarak,Lc,M.Ag
CP:0898-799-1988 (Jalal)